Makassar – Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Makassar kembali menggelar program rutin bulanan Tudang Sipulung Pegawai di Aula Dr. Hasanuddin Massaile, Selasa (28/7). Kegiatan dipimpin langsung oleh Kepala Bapas Kelas I Makassar, Surianto, dan diikuti oleh seluruh pegawai Bapas Makassar. Sementara itu, jajaran petugas pada Pos Bapas di berbagai wilayah mengikuti kegiatan secara daring.

Dalam arahannya, Surianto memimpin pembahasan mengenai pembentukan Kelompok Layanan Bimbingan Integrasi sebagai tindak lanjut kebijakan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dalam memperkuat pelaksanaan reintegrasi sosial Klien Pemasyarakatan. Ia menjelaskan bahwa pembentukan kelompok layanan tersebut merupakan implementasi paradigma baru pemasyarakatan yang menempatkan masyarakat sebagai mitra strategis dalam mendukung keberhasilan pembimbingan, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Surianto menjelaskan bahwa Kelompok Layanan Bimbingan Integrasi dibentuk untuk memperkuat pelibatan masyarakat dalam proses pembimbingan Klien Pemasyarakatan, mengurangi stigma negatif terhadap mantan warga binaan, meningkatkan keberhasilan reintegrasi sosial melalui kolaborasi lintas sektor, serta menurunkan angka residivisme demi terciptanya keamanan dan ketertiban masyarakat. Menurutnya, keberhasilan pembimbingan tidak hanya bergantung pada Bapas, tetapi juga memerlukan dukungan berbagai elemen masyarakat sebagai lingkungan tempat klien kembali menjalani kehidupan.

Sebagai langkah implementasi, setiap Kelompok Layanan Bimbingan Integrasi dipetakan berdasarkan zona Griya Abhipraya yang telah dibentuk. Masing-masing koordinator zona nantinya bertugas membangun koordinasi dengan pemerintah setempat, Babinsa, Bhabinkamtibmas, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya yang memiliki potensi mendukung proses reintegrasi sosial. Pola kerja yang sama juga diterapkan pada Pos Bapas di berbagai daerah, di mana setiap petugas diminta memperkuat jejaring dan kolaborasi dengan stakeholder di wilayah kerja masing-masing agar pembimbingan dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

Selain itu, Surianto juga menggali informasi dari seluruh Pembimbing Kemasyarakatan terkait Klien Pemasyarakatan yang telah memiliki usaha atau kegiatan ekonomi produktif. Pendataan tersebut akan menjadi dasar bagi Bapas Makassar dalam menyusun strategi pemberdayaan melalui jejaring kemitraan yang dimiliki, sehingga usaha para klien dapat memperoleh pendampingan, pengembangan kapasitas, maupun akses kolaborasi yang mampu meningkatkan kemandirian ekonomi mereka. Langkah tersebut diharapkan menjadi bagian penting dari proses reintegrasi sosial yang tidak hanya berorientasi pada pengawasan, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan dan keberlanjutan kehidupan klien setelah kembali ke tengah masyarakat.

“Keberhasilan reintegrasi sosial tidak dapat dibangun oleh Bapas sendiri. Kita membutuhkan masyarakat sebagai mitra utama dalam memberikan ruang penerimaan, kesempatan, dan harapan baru bagi Klien Pemasyarakatan. Karena itu, Kelompok Layanan Bimbingan Integrasi harus mampu menjadi wadah kolaborasi yang menghasilkan program-program nyata, termasuk mendorong tumbuhnya kemandirian ekonomi klien agar mereka benar-benar siap kembali menjadi bagian dari masyarakat,” tegas Surianto.

Usai pembahasan materi utama, kegiatan dilanjutkan dengan sesi dialog terbuka yang menjadi ciri khas Tudang Sipulung. Seluruh pegawai diberikan kesempatan menyampaikan pertanyaan, masukan, maupun berbagai kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan tugas sehari-hari. Berbagai persoalan didiskusikan secara terbuka untuk mencari solusi bersama, sehingga tercipta kesamaan persepsi, penguatan koordinasi, dan peningkatan kualitas pelaksanaan tugas di lingkungan Bapas Kelas I Makassar. Melalui forum ini, semangat kebersamaan, musyawarah, dan kolaborasi terus dipelihara sebagai budaya kerja dalam mewujudkan pelayanan pemasyarakatan yang profesional, humanis, dan berdampak bagi masyarakat.

Narasi: MFZ

Wartawan: MFZ, Editor: INS