MAKASSAR, 10 SEPTEMBER 2026 — Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Makassar kembali menggelar kajian keagamaan bagi pegawai dan peserta magang sebagai bagian dari pembinaan spiritual di lingkungan kerja. Kegiatan berlangsung di Masjid Al Hidayah Bapas Makassar, Kamis (10/9), dan dirangkaikan dengan apel pagi.

Kajian yang dilaksanakan secara rutin setiap pekan tersebut menghadirkan Ustadz Muhammad Jawahir Thahir, Lc. dengan tema “Rezeki Sudah Diatur, Usaha Tetap Wajib.” Tema tersebut mengajak para peserta untuk memahami hubungan antara keyakinan terhadap ketetapan Allah SWT dengan kewajiban manusia untuk terus berikhtiar dalam menjalani kehidupan.

Dalam kajiannya, Ustadz Muhammad Jawahir menjelaskan bahwa rezeki dalam Islam tidak semata-mata berjalan berdasarkan hubungan sebab-akibat yang bersifat material. Rezeki merupakan bagian dari kemurahan Allah SWT yang telah ditetapkan dan berada dalam kehendak-Nya.

Karena itu, manusia tidak dibebani untuk memastikan bagaimana dan dari mana hasil akhir rezekinya akan datang. Yang menjadi tanggung jawab manusia adalah menjalani proses dengan sungguh-sungguh, memilih jalan yang halal, meluruskan niat, serta mengoptimalkan usaha yang dapat dilakukan.

Ia menekankan bahwa keyakinan bahwa rezeki telah diatur Allah SWT tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti berusaha. Sebaliknya, keyakinan tersebut perlu berjalan beriringan dengan ikhtiar, karena usaha merupakan bagian dari kewajiban manusia yang akan dipertanggungjawabkan.

“Rezeki sudah menjadi ketetapan Allah, tetapi usaha tetap menjadi kewajiban kita. Yang akan dinilai bukan kemampuan kita menjamin hasil, melainkan bagaimana kita menjalani proses, niat, dan ikhtiar yang kita lakukan,” pesan Ustadz Muhammad Jawahir.

Pemahaman tersebut juga menjadi relevan dalam kehidupan pekerjaan. Setiap pegawai memiliki tanggung jawab untuk menjalankan tugas secara profesional, jujur, dan sungguh-sungguh, sementara hasil dari setiap usaha tetap diserahkan kepada ketentuan Allah SWT.

Dengan demikian, bekerja tidak semestinya hanya diukur dari hasil yang terlihat secara materi. Niat yang baik, proses yang benar, kerja keras, serta usaha yang dilakukan melalui jalan yang halal merupakan bagian dari amal yang memiliki nilai ibadah.

Kajian kemudian dilanjutkan dengan dialog interaktif. Pegawai dan peserta magang berkesempatan menyampaikan pertanyaan serta mendiskusikan bagaimana menempatkan ikhtiar, tawakal, dan keyakinan terhadap ketetapan rezeki dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pelaksanaan tugas kedinasan.

Kepala Bapas Kelas I Makassar, Surianto, menyampaikan bahwa pembinaan spiritual menjadi salah satu upaya untuk membangun keseimbangan antara kompetensi dan karakter pegawai.

“Pegawai perlu memiliki keyakinan bahwa hasil akhir berada dalam ketentuan Allah, tetapi keyakinan itu justru harus mendorong kita untuk bekerja lebih sungguh-sungguh. Tugas kita adalah memberikan ikhtiar terbaik, menjalankan amanah dengan benar, dan tidak menghalalkan segala cara demi mengejar hasil,” ujar Surianto.

Menurutnya, pemahaman tersebut penting dalam membangun budaya kerja yang berintegritas. Ketika hasil tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia, maka yang harus dijaga adalah prosesnya: bagaimana tugas dilaksanakan, bagaimana pelayanan diberikan, dan bagaimana amanah dipertanggungjawabkan.

“Rezeki boleh kita yakini sudah diatur, tetapi tanggung jawab tidak boleh ditinggalkan. Kita tetap harus bekerja, melayani dengan baik, menjaga kejujuran, dan memberikan ikhtiar terbaik. Soal hasil, kita serahkan kepada Allah SWT,” lanjutnya.

Melalui kajian rutin tersebut, Bapas Makassar terus mendorong terciptanya lingkungan kerja yang tidak hanya berorientasi pada kinerja, tetapi juga memiliki landasan moral dan spiritual. Keyakinan terhadap ketetapan Allah diharapkan dapat menghadirkan ketenangan dalam bekerja, sementara kewajiban berikhtiar menjadi pengingat untuk senantiasa memberikan usaha terbaik dalam menjalankan amanah.

Wartawan: MFZ, Editor: IRS