Makassar — Suasana haru menyelimuti halaman Balai Pemasyarakatan Kelas I Makassar saat prosesi Pedang Pora digelar sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi Jaelani, Pembimbing Kemasyarakatan Ahli Madya yang memasuki masa purnabakti, Kamis (30/4).
Prosesi ini merupakan rangkaian penutup dari kegiatan pelepasan purnabakti yang sarat makna simbolis. Dengan diiringi alunan musik yang khidmat, Jaelani bersama istri berjalan melewati barisan pedang yang dibentuk oleh para pegawai sebagai wujud penghormatan atas dedikasi dan pengabdiannya.
Kepala Bapas Makassar, Surianto, bersama Ketua Dharma Wanita Persatuan serta Ketua P3I Sulawesi Selatan turut hadir mendampingi dalam prosesi tersebut.
Pedang pora tidak hanya menjadi simbol pelepasan, tetapi juga representasi penghargaan institusi terhadap loyalitas, integritas, dan kontribusi yang telah diberikan selama bertugas.
Momen ini menjadi penutup yang berkesan, sekaligus pengingat akan nilai-nilai pengabdian yang terus hidup dalam setiap langkah insan pemasyarakatan.
Melalui prosesi ini, Balai Pemasyarakatan Kelas I Makassar menegaskan komitmennya dalam menghormati setiap perjalanan pengabdian pegawai yang telah memberikan kontribusi terbaik bagi institusi dan masyarakat.
Narasi: MFZ
