Makassar – Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Makassar kembali menunjukkan peran strategisnya dalam pengembangan kebijakan pembimbingan kemasyarakatan berbasis riset. Melalui dua orang Pembimbing Kemasyarakatan, Lukman, S.H., M.H. selaku Pembimbing Kemasyarakatan Ahli Madya dan Harliyanti, S.Pd., M.H. selaku Pembimbing Kemasyarakatan Ahli Muda, Bapas Makassar mengikuti Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Rancangan Model Deradikalisasi Berbasis Gender yang diselenggarakan oleh Tim Periset Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang melalui Program Riset MoRA The AIR Funds bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan di Gammara Hotel Makassar, pada 6–8 Agustus 2026.
Kegiatan ilmiah tersebut merupakan bagian dari penelitian nasional bertajuk “Dekonstruksi Hegemonik Budaya Patriarkal dan Doktrin Ideologi Eskatologis dalam Fenomena Radikalisme-Ekstremisme Perempuan Muslimah di Indonesia”, yang diarahkan untuk menyusun model deradikalisasi berbasis gender sebagai pendekatan yang lebih adaptif terhadap karakteristik perempuan yang terpapar paham radikal dan ekstremisme.
Forum ini mempertemukan akademisi, praktisi, aparat penegak hukum, mantan narapidana tindak pidana terorisme (eks napiter), serta berbagai pemangku kepentingan untuk merumuskan model pembimbingan yang lebih komprehensif. Selama kegiatan berlangsung, peserta mendiskusikan berbagai pendekatan deradikalisasi dari perspektif ideologi, psikologis, sosial, hingga pengalaman empiris dalam proses pembimbingan dan reintegrasi sosial Klien.
Keikutsertaan Bapas Makassar dalam forum tersebut menjadi bentuk kontribusi nyata institusi Pemasyarakatan dalam memperkaya penyusunan kebijakan nasional berbasis praktik lapangan. Pengalaman Pembimbing Kemasyarakatan dalam mendampingi Klien, termasuk Klien tindak pidana terorisme, menjadi perspektif penting dalam merumuskan model deradikalisasi yang tidak hanya berorientasi pada aspek keamanan, tetapi juga mengedepankan pemulihan, pemberdayaan, serta keberhasilan reintegrasi sosial.
Rangkaian kegiatan diisi dengan pemaparan materi, diskusi kelompok, brainstorming, hingga perumusan rekomendasi sebagai bahan penyusunan rancangan model deradikalisasi berbasis gender. Salah satu materi yang menjadi perhatian peserta adalah pendekatan pembimbingan terhadap Klien perempuan tindak pidana terorisme yang disampaikan oleh Dr. Andi Marwan Eryansyah, yang menekankan pentingnya proses pembimbingan yang humanis, berkelanjutan, dan disesuaikan dengan kebutuhan individual Klien.
Partisipasi Bapas Kelas I Makassar dalam kegiatan ini sekaligus menegaskan komitmen untuk terus mendukung pengembangan Pembimbingan Kemasyarakatan berbasis ilmu pengetahuan dan hasil penelitian. Sinergi antara akademisi, praktisi, dan berbagai pemangku kepentingan diharapkan mampu menghasilkan model deradikalisasi yang lebih efektif, berperspektif gender, serta memperkuat upaya pencegahan ekstremisme sekaligus mendukung keberhasilan reintegrasi sosial Klien Pemasyarakatan di tengah masyarakat.
Narasi: MFZ
Wartawan: MFZ, Editor: INS

Tinggalkan Balasan