MAKASSAR – Mensyukuri nikmat bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah, melainkan menyadari karunia yang dimiliki dan menggunakannya untuk kebaikan. Pesan tersebut menjadi inti kajian keagamaan rutin yang digelar Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Makassar di Masjid Al-Hidayah, Kamis (15/10), dengan menghadirkan Ustaz Bambang Abu Ubaidillah.
Kegiatan yang diikuti pegawai dan peserta magang Bapas Makassar ini membahas hakikat syukur, kecenderungan manusia terhadap keinginan yang tidak pernah habis, serta pentingnya menata hati agar tidak terjebak dalam ketidakpuasan terhadap kehidupan.
Dalam kajiannya, Ustaz Bambang menjelaskan bahwa syukur diwujudkan melalui hati yang mengakui nikmat, lisan yang memuji Allah, dan perbuatan yang mencerminkan ketaatan. Hal ini sejalan dengan firman Allah Swt. dalam Surah Ibrahim ayat 7 tentang janji penambahan nikmat bagi orang-orang yang bersyukur.
Ia juga mengingatkan bahwa keinginan bukanlah sesuatu yang keliru. Namun, keinginan yang tidak dikelola dengan baik dapat membuat seseorang terus berfokus pada hal-hal yang belum dimiliki, hingga melupakan nikmat yang telah hadir dalam kehidupannya. Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, termasuk melalui media sosial dan gaya hidup, turut menjadi salah satu penyebab sulitnya seseorang merasa cukup.
Untuk menumbuhkan rasa syukur, peserta diajak membiasakan muhasabah atau introspeksi diri dengan mengenali nikmat sehari-hari, mulai dari kesehatan, waktu, keluarga, hingga kesempatan berbuat baik. Sikap qana’ah, yakni merasa cukup dan menerima ketetapan Allah dengan lapang hati, juga menjadi bagian penting dalam menata keinginan dan menjaga ketenangan batin.
Lebih lanjut, syukur perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti memperbanyak zikir dan doa, menjalankan ibadah, berbagi dengan sesama, serta menghargai kebaikan orang lain. Dengan demikian, syukur tidak berhenti sebagai ungkapan lisan, tetapi menjadi sikap yang tercermin dalam kehidupan pribadi maupun dalam hubungan sosial.
Kajian ini menjadi ruang refleksi bagi jajaran Bapas Makassar untuk memperkuat nilai spiritual dan membangun sikap hidup yang lebih positif. Nilai syukur juga relevan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, sebagai pengingat untuk menjalankan amanah dengan tulus, menghargai kesempatan mengabdi, dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Wartawan: MFZ, Editor: IRS

Tinggalkan Balasan