MAKASSAR, 8 September 2026 — Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Makassar kembali melaksanakan Bimbingan Kepribadian bagi Klien Pemasyarakatan melalui kegiatan rutin yang digelar di Masjid Al Hidayah Bapas Makassar, Selasa (8/9). Mengangkat tema “Menata Mindset Kebebasan”, kegiatan diarahkan untuk membangun cara pandang Klien agar lebih siap menjalani kehidupan secara positif dan bertanggung jawab setelah kembali ke tengah masyarakat.
Bimbingan diikuti oleh Klien Pemasyarakatan dan dimoderatori oleh Kepala Urusan Umum, Delcaria Amir, dengan materi disampaikan oleh Pembimbing Kemasyarakatan Ahli Muda, Moch. Fauzan Zarkasi.
Dalam penyampaian materinya, Fauzan mengajak Klien memahami bahwa kebebasan tidak semata-mata berarti berakhirnya masa menjalani pidana, tetapi merupakan kesempatan untuk menentukan kembali arah kehidupan. Kebebasan membawa pilihan, sekaligus tanggung jawab atas pilihan tersebut.
Menurutnya, perubahan kehidupan perlu diawali dengan perubahan cara berpikir. Klien yang akan kembali ke masyarakat perlu membangun pola pikir baru agar tidak kembali pada kebiasaan maupun lingkungan yang berpotensi mengantarkan mereka pada persoalan hukum.
“Bebas bukan berarti kembali melakukan apa saja yang kita mau. Kebebasan justru berarti kita kembali memiliki kesempatan untuk memilih, dan setiap pilihan selalu memiliki konsekuensi. Karena itu, sebelum mengubah kehidupan, kita harus berani mengubah cara berpikir,” ujar Fauzan.
Melalui materi tersebut, Klien diajak melakukan refleksi terhadap perjalanan hidup, mengenali pola pikir yang memengaruhi pengambilan keputusan, serta membangun perspektif yang lebih positif terhadap masa depan.
Fauzan menekankan bahwa masa pembimbingan merupakan ruang untuk mempersiapkan diri sebelum kembali sepenuhnya ke lingkungan sosial. Karena itu, pembimbingan tidak seharusnya dipandang sebagai sekadar kewajiban, melainkan kesempatan untuk membangun kesiapan mental, memperbaiki pola pikir, dan menyusun kembali rencana kehidupan.
“Jangan menunggu bebas untuk mulai berubah. Perubahan harus dimulai ketika kita masih memiliki kesempatan untuk dibimbing. Ketika pintu kebebasan terbuka, yang akan menentukan ke mana kita melangkah adalah mindset yang sudah kita bangun sebelumnya,” lanjutnya.
Bimbingan berlangsung secara interaktif. Klien mengikuti materi dengan seksama dan diajak menghubungkan pembahasan dengan pengalaman serta kondisi kehidupan masing-masing. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu Klien melihat masa lalu sebagai bahan pembelajaran sekaligus membangun orientasi yang lebih kuat terhadap masa depan.
Kepala Bapas Kelas I Makassar, Surianto, menyampaikan bahwa Bimbingan Kepribadian merupakan bagian penting dalam proses pembimbingan Klien, khususnya dalam mempersiapkan kesiapan mental dan karakter sebelum kembali ke masyarakat.
“Pembimbingan tidak hanya berbicara tentang kepatuhan terhadap aturan. Kita juga perlu membangun cara berpikir dan karakter Klien agar mereka memiliki kesiapan menghadapi kehidupan setelah masa pembimbingan. Kebebasan harus diisi dengan pilihan-pilihan yang bertanggung jawab,” ujar Surianto.
Menurutnya, keberhasilan reintegrasi sosial tidak hanya ditentukan oleh berakhirnya masa pembimbingan, tetapi juga oleh kesiapan Klien dalam menjalani kehidupan setelahnya.
“Kita ingin Klien melihat masa pembimbingan sebagai kesempatan untuk menata kembali kehidupan. Masa lalu tidak bisa diubah, tetapi cara kita menyikapinya dan keputusan yang kita ambil untuk masa depan masih bisa diubah,” lanjutnya.
Bimbingan Kepribadian yang dilaksanakan secara rutin di Masjid Al Hidayah menjadi salah satu bentuk pembinaan Bapas Makassar dalam memperkuat aspek mental, karakter, dan kesiapan sosial Klien Pemasyarakatan.
Melalui proses pembimbingan yang berkelanjutan, Bapas Makassar berupaya memastikan Klien tidak hanya siap menyelesaikan masa pembimbingan, tetapi juga memiliki kesiapan untuk menyambut kebebasan dengan cara pandang baru, pilihan yang lebih baik, dan tanggung jawab yang lebih besar.
Narasi: MFZ
Wartawan: MFZ, Editor: INS

Tinggalkan Balasan